Well, this I suddenly want to start blogging again, but for now I want to share with who ever you are read this. This time I'm gonna tell you my extreme introvert side. Do you know introvert? Well, it's kind of habitual where you always all alone, closed self, not close with anyone, and maybe some people call it autism (ouch) and that's true. But for me, extremely introvert is a gift. Why? Just keep reading.
When I was a little boy, people used to mocked me, let's say that I was a bullied victim. It's like they throw everything at you to take you down and unfortunately there's no one in your side, means you're just alone. Me Vs The World. Yea, I admit it that I was bullied but that's not a bad thing (for me). Having bad memories when you're child usually a bad thing, but as for me. I thanked for that because I can feel to feel, you get it? I know what it feels like to be abandoned, I know what it feels like to be left out, and I know what it feels like to adapt with hurt. Tell you the truth, almost everyday they scratch my heart and dried out my tears but then I realize, what they did to me is only make me stronger than ever.
So it's clear why I'm such an extreme introvert, yea. I don't want to get hurt. That's my way to protect myself, I don't want people leave me and I don't want they can go to my life and then out like a snap. Being an extreme introvert also make my heart cold, I can't feel anything, I can't cry even if I want to. I don't know why, maybe people think that I'm a gay but I'm just not attracted to all creatures in this world. I don't even hate them. I just see them like a flat ice, same. Heartless is good because you'll not easily get hurt by people, you're just strong as a titanium. But actually, deep in my self, there's a little boy who just so fragile like a cheap tissue looking for something that he don't even know what is that.
The hard thing being an extreme introvert is that you can't express anything, people always get you wrong for what you say, for what you did, for what you express in front of them. So the only way to prevent those thing is just silence, zip my mouth. And I actually realize that I always pushed people from my life, I make a giant wall that won't even move, sometimes I hope I can crushed it down but I can't or....I just won't do that because I'm too coward to face this world.
Being extremely introvert is challenging...
Sunday, April 14, 2013
Tuesday, October 9, 2012
College
When I'm in high school, I really want to go to college because I think it's wonderful, it's great, and it's excited. But now I realize college isn't that good and it's like a crap, high school really is a fairytale, and college is a folktale, where everything turns into nightmare. When you're in high school, you might be a shark or a whale but when you're in college you're will be such a clownfish. You need to realize that college is a miniature of real life, you will need social link, moneys, and stuffs.
College isn't bad at all, but sometimes it can be such a huge crap in life, where the professors so killy and your friends is like from all around the world. College is about competency. For the social link, you can join student activities but you have to had a strong mental like a metal. You will be faced by a lot of obstacle and sometimes you will feels like you want to give up and end the things that you really hate.
For the professor taking out you need to study harder than you did in high school, but have you imagine that you're a machine that created by God? Well, if you feel so, the you have to maximize that thought and put it on you work. It's like you need to read more but you have to act more in the same time. It seems so hard, but after you fall you will always try to stand up and run again, it's pain in the ass. You will need part time work to fill your pocket, you will need to down to earth if you're nothing there or you're an outsider like me, it suck, yes it is.
Your life will full of homework, you will be invisible or it suits you, and you will trough a lot of obstacles. You need to close to God and stand with Him in any condition. You have to be an independent person, you can't be such a relying person that attach to everyone and like a remora fish.
But, once you succeed in college that means you've already work so hard and you get what you seed. So to all human that will go to college, be prepare!
Xo
Tuesday, June 19, 2012
Is Malaysia Going To Win(again)?
Looks like Indonesia vs Malaysia cold war still going on and today we know that Malaysia is turning up the heat (again). This time, Malaysia will claimed Tor-Tor and Gondang Sembilan as their culture, what's Indonesian reaction?
Well, as usual after the fire lit Indonesian start to act. As we known that Tor-Tor is Batak's traditional dancing, but unfortunately there are few of teenagers at Indonesia that doesn't even know (until know). Let's keep it simple, Indonesian teenager is on under attack of Korean Pop (K-Pop) and lately by GaGa (seriously people?).
Indonesian start their sympathy by make a hashtag on Twitter #TorTorPunyaIndonesia. Many teens tweet that so the can show their nationalism (even it's a little late). And as usual, Malaysian keep resist and going to claimed it. Did you guys think that Malaysia will win (again) this time?
Let's face the truth that Indonesian teenager (except me and some people) are to focus on Korean thing. This is a WAKE UP CALL. We need to build our country, proud of our own culture and stop fanatized Korean thing. Seriously you guys, it's not worth it if we keep Koreanized our self but then you don't even realize that our culture is taken by Malaysia. We need to known every culture in Indonesia and if we must we must showed the to the public about those culture, so they will know and the world will know too!
But, I want your opinion about K-Pop invade our country on the comment. It's free for you to use your own language.
Xo
Monday, June 18, 2012
Puzzle
Chapter 4
Hell-O Power…!
Aku
bangun dengan rasa bingung, entah kenapa kejadian malam kemarin sangat aneh.
Tapi aku percaya itu terjadi. Harus. Entah mengapa meskipun aku selalu berpikir
hal itu absurd tapi aku merasa itu nonabsurd. Setidaknya.
Matahari
bebas masuk ke ruanganku. Dan aku melihat langit yang cerah. Pemandangan yang
sukar didapat di kota kecil ini. Ibuku libur kerja, aku bisa mendengar suara
dapur yang jarang sekali terdengar di bawah. Setelah mencuci muka aku segera
turun ke bawah.
“Hai
mum.”
“Hai
Al. Bagaimana tidurmu? Kau pulang jam berapa semalam? Ibu tidak sempat
melihatmu semalam, kerja lembur benar-benar membuatku lelah. Haaaaahh….”
“Nyenyak,
aku pulang tidak terlalu larut. Ya aku melihat ibu di kamar tertidur sambil
mendengar lagu grup band Machiato.”
Ibuku
hanya melirik tersenyum. Macchiato. Grup band yang sudah ketinggalan jaman,
dengan lagu slow mereka yang mampu membuatmu kembali menjadi orang tua
membosankan dengan kutil di bokong. Lagu kenangan mum dan dad. Dulu.
“Oh
Al, bisa kau carikan pin ibu yang hilang?”
“Pin?
Dimana ibu menghilangkannya?”
“Ibu
takkan bertanya jika ibu tau. Cepat ya, ibu mau pergi belanja dengan
teman-teman ibu.”
“Ok.”
Akupun
segera meninggalkan dapur dan pergi ke ruang tengah. Kucari disana-sini tapi
tetap tidak ada. Bahkan di bawah kursi sekalipun. Aku mulai focus pada pencarian
pin. Benda kecil. Tiba-tiba saja aku melangkah ke dapur. Lagi. Dan menemukan
pin di dekat mesin kopi. Aku tau itu disana. Entah darimana.
“Nih
mum. Kau pasti malam lupa mengambilnya kembali.”
“Thank’s
Al. Kau yang terbaik.”
“Dan
hanya satu.”
Mum
hanya tersenyum lembut dan segera pergi ke luar.
“Jangan
lupa makan siang. Aku tidak akan lama!” teriak mum dari luar.
Sekarang
aku sendirian. Kenapa aku bisa menemukan pin itu? Aku merasa ada yang
memberitahuku letak pin tersebut. Mungkin hanya keberuntungan saja. Sesekali
aku melihat mobil lewat. Ada bus lollipop dengan wanita gemuk berpipi merah
sedang memegang lollipop seperti microphone, dan di bawahnya bertuliskan “Lol
is Sing. Sing is Lol”. Tak masuk akal. Yang tambah membuatku bosan yaitu
seorang pedagang es krim yang sudah tua, dia sudah tua ketika aku masih bermain
bola kecil. Dan sekarang aku mulai merasa kasihan padanya. Berani taruhan, dia
belum punya istri. Hal itu terlihat dari cara dia memandang bokong perempuan
tua yang senasib dengannya.
Tanpa
terasa waktu begitu cepat berlalu, yang kulakukan hanya menonton acara-acara
yang kurang bermutu. Aku mulai merasa lapar, akupun pergi ke dapur. Tapi aku
tak menemukan makanan yang siap santap. Menyebalkan. Terpaksa aku harus
membuatnya sendiri. Mungkin aku hanya akan membuat beberapa sosis dan bakso
udang rebus. Masakan tergampang. Well, sebenarnya aku bias saja mampir ke café,
tapi aku terlalu malas untuk pergi kesana. Akupun segera menyalakan kompor dan
kubirakan air di panic mendidih. Sambil aku menunggu aku pergi ke atas untuk
mengambil handphone-ku.
Sesampainya
diatas aku tidak bisa menemukan benda yang kucari. Tiba-tiba aku melihat
seseorang berdiri di depan gerbang rumahku, aku melihatnya melalui jendela
kamarku. Dia seumuran denganku, berambut putih. Dia meliriku dan tersenyum
dingin, lalu segera berbalik dan pergi.
Satu
hal yang membuatku tertarik. Dia ada dalam mimpiku. Si mata merah biru.
Abellio. Entah mengapa aku mengingatnya.
Tiba-tiba
aku mencium bau gosong. Seketika aku teringat kompor yang aku nyalakan di bawah
tadi. Akupun segera berlari ke bawah. Dan memang benar, api sudah menjalar
kemana-mana. Aku berpikir sejenak, darimana api itu dating? Aku merasa tadi
tidak ada benda yang dapat memicunya.
Akupun
segera menghubungi pemadam kebakaran. Tetapi nihil, tidak ada koneksi untuk
menelpon. Aku bingung, lalu aku segera berlari ke kamar mandi dan menyiram api.
Nihil. Api terlalu besar. Sekarang aku berada di tengah api, aku tak bias
keluar. Panas, pengap. Akupun berteriak minta tolong. Nihil. Apakah kebakaran
ini tidak ada yang bias melihat?
Api
semakin membesar. Aku semakin bingung dan takut. Jujur. Tak lama kemudian aku
mendengar sesuatu pecah melepas ke udara. Aku mulai mendengar suara orang-orang
diluar. Ramai. Diantara suara itu aku mendengar suara ibuku memanggilku dan
orang lain untuk membantu memadamkan api. Aku bisa mendengar suara api yang
bereaksi dengan air. Api terlalu besar, tak bisa di padamkan. Hidupku berakhir
disini, setidaknya itu yang terlintas di benakku. Aku berteriak dalam hati,
“Api, padamlah. Aku belum ingin mati.” Aku terus mengulang kata itu dalam hati
dengan sungguh-sungguh. Aku terlalu takut untuk mati.
Aku
pejamkan mata, lalu aku mengatakan kalimat itu lagi.
Aku
bisa mencium bau obat, menyengat sekali. Mataku terpejam, bau itu memaksaku
untuk bangun, kubuka mataku secara perlahan dan mataku terasa perih, kupejamkan
kembali secara spontan. Kudengar suara bisikan orang-orang, bisikan mereka
begitu lirih, diantara mereka ada suara ibuku yang mengucapkan terima kasih
berulang-ulang.
Akupun
membuka mataku secara perlahan lagi, dan akhirnya mataku terbuka, aku dalam
posisi tidur, kulihat lampu putih terang.
“Dia
sudah sadar.”
Itu
suara ibuku, terdengar gembira dan langsung menghampiriku disusul beberapa
orang di belakangnya, Rio dan ibunya Areshma Eclat. Areshma adalah perempuan
berambut pirang dengan mata berwarna hijau cerah, tubuhnya ramping dan kulitnya
cerah.
Ibu
langsung memeluku.
“Syukurlah
kau tak apa-apa, lain kali hati-hatilah!”
Aku
hanya tersenyum pahit, entah kenapa perasaanku agak kurang enak, mungkin ini
akibat rasa bersalahku.
“Ibu,
bagaimana rumah kita?”
“Oh,
mungkin Rio bisa menceritakannya. Ibu pingsan, karena terlalu khawatir.”
Akupun
melirik pada Rio.
“Rumahmu
tidak apa-apa, bahkan pemadam kebakaranpun tidak membantu.”
“Tidak
membantu? Tapi apinya padamkan?”
“Iya,
padam tanpa air.”
“Apa
maksudmu?”
“Begini
Al…”
Tiba-tiba
Areshma memotong pembicaraan.
“Valent,
kau harus banyak istirahat dulu. Jangan terlalu dipikirkan kecelakaan tersebut.
Setidaknya biarkan fisik dan mentalmu merasa damai.”
“Oh,
baiklah kalau begitu.”
Akupun
berbaring kembali, semuanya pergi membiarkanku untuk beristirahat. Aku masih
bingung dengan apa yang Rio katakana, rasanya dia mengatakan bahwa api padam
tanpa air. Intinya. Tapi aku tidak mau memikirkan hal rumit dulu. Aku pejamkan
mataku lagi. Aku masih ingin tidur, aku lelah…
***
Tak
terasa hari sudah malam, aku tidak bisa tidur lagi, tidur selama 15 jam (kurang
lebih) benar-benar membuat mataku perih untuk memejamkan mata kembali. Aku melihat
keluar melalui jendela, bulan bersinar terang. Tanpa bintang. Hanya ada awan
malam yang menyelimuti bulan. Akupun beranjak dari tempat tidurku, lebih
mendekat ke jendela. Cahaya ruangan hanya dipenuhi cahaya bulan, aku sengaja
mematikan lampu. Aku suka gelap.
Kubuka
jendela lebar-lebar, kurasakan angin malam yang masuk ke ruanganku, terasa
sejuk sekali.
“Valent…”
bisik suara yang entah darimana.
Akupun
membalikan badan. Tidak ada siapa-siapa.
“Valent
Bloodworth…”
Aku
semakin kalut, galau tidak tahu siapa dan darimana asal suara itu.
“Hebat
juga gelagatmu, Valent…”
Kini
aku melihat sosok asal suara itu, tepat sedang duduk di sofa dengan santai,
orang berjubah hitam, bermata merah biru, Abellio. Aku agak terkejut, tapi aku
sudah merasa agak terbiasa dengan hal ini.
“Bagaimana
kau bisa masuk?” sebenarnya aku juga sadar, pertanyaan dramatisir.
“Kau
tak perlu tau bodoh.”
“Apa
maumu? Aku melihatmu sebelum kebakaran!”
“Tapi
kau berhasil memadamkannya.”
“Apa
maksud…”
Tiba-tiba
aku dikelilingi oleh asap tebal berwarna hitam pekat.
“Hentikan
Umbra, dia belum ‘sempurna’.”
Tiba-tiba
dari asap tersebut ada tonjolan yang membentuk seperti bola dan akhirnya
mebentuk menjadi kepala manusia. Aku dapat melihat matanya yang putih pekat
dari asap tersebut. Hanya asap. Aku susah bergerak.
“Oh,
dan seharusnya kau tidak mengatakan hal itu, Abe…”
Sosok
itu menyeringai jahat. Suara itu yang memanggilku tadi. Menyeramkan. Kemudian
sosok asap tersebut menjauh dariku dan menghampiri Abellio, lalu duduk di
sampingnya. Asap itu memadat, sekarang asap itu berbentuk manusia, dan akhirnya
asap itu memang manusia. Seumuran dengan Abellio, matanya putih pekat, kulitnya
coklat, rambutnya bewarna biru gelap pekat dan dia mempunyai sayap kecil di
belakang, sayap itu berwarna hitam, sayap seperti iblis.
“Aku
heran kenapa Lord memilih anak ini, aku bahkan tidak bisa merasakan kegelapan
dalam dirinya.”
“Belum,
mungkin. Tapi setidaknya kita menghormati Devina. Dia belum sempurna.”
“Lalu?”
“Saat
dia sempurna…kau taulah.”
Aku
hanya berdiri tegang tak mengerti, sinar bulan justru mendukung suasana aneh
ini. Misterius.
“Hmm..bolehkah
aku ikut dalam pembicaraan?” potongku mencairkan ketakutanku.
“Woaa,
berani sekali dia berbicara seperti itu pada kita!?” kata si hitam, atau kalau
tidak salah Abellio memanggilnya Umbra.
“Memangnya
kita siapa? Biarkan saja, nanti dia akan jadi salah satu dari kita.” Balas
Abellio dingin sambil beranjak.
Aku
semakin tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Ketika aku membuka
mulut untuk berbicara, tiba-tiba Abellio memotong.
“Ayo
Umbra, aku bosan.”
“Sudah
mau pergi? Baiklah, baiklah…”
“Selamat
tinggal, Valentino.”
“Bye
Valent, pertemuan yang kurang berkesan.”
Lalu
dalam sekejap mereka masuk dalam portal. Menghilang dalam kegelapan.
Aku
tetap berdiri seperti orang bodoh yang baru melihat hantu. Kemudian aku
berjalan perlahan menuju ranjang dan kembali dengan posisi orang sakit. Aku
menyandarkan kepalaku di bantal, berusaha meyakinkan kalau kejadian tadi hanya
khayalan semata, tidak nyata. Aku meyakinkan pada diriku kalau aku mengalami
gangguan saraf, dan pada saat besok bangun aku akan menjadi manusia baru.
Seutuhnya.
Change
Have you ever love someone so deep that you can't let them go?
Well, I never have, I always pretend that I have someone I love, but the fact is I don't have anyone. All I do is just pushing people from my life and I start to crawling to the tower of loneliness, let's say that I rid my own feeling because I know when I love someone it'd be hurt someday.
Let's get to the point now, if you feeling "so lonely", I have some tips for you.
1. Listen to your favorite music, if you really wants to be alone just search for a good song about being alone
2. Write your own story, at least it will make you feel that you're sharing (if you post it online since you're so unsocial)
3. Looking for an interesting activity, at least it will make you so busy
4. Find out about your own self.
I think number 4 is the hard thing to do, why? Because sometimes we're afraid to encounter our true self, because all this time we're so naive pretending to be someone perfect (but contrary we don't have to). Why you're so scared about showing your true self? Because you want to be perfect or you're ashamed of your true color, no one to blame in this case. But it's better for you to show you true self to people around you, I mean they will know you and you will confident to your own self.
Look, you don't need to afraid of your true self, dark or bright it is still your part and it INSIDE of you! So, stop ignoring your naive and start to realize that "THIS IS ME" and love yourself and your life.
Maybe you ever lie about something to people around you, but isn't nice if you just tell them the truth and stop pretending?
Wednesday, June 13, 2012
Puzzle
Chapter 3
Lazy Evening, Start The Day
Suara
burung terdengar begitu nyaring ditelinga, mengusik.
Pelan-pelan
aku mulai membuka mata secara perlahan, sudah pagi. Ketika bangun aku merasa
pusing, ugh. Semuanya serasa berputar, tapi segera berlalu ketika ku
geleng-gelengkan kepalaku.
Apa
yang sudah kulakukan?
Aku
berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi malam tadi, hal yang tak masuk akal.
Ternyata kejadian itu hanya mimpi. Akupun menarik napas dalam-dalam. Lega. Tapi
entah kenapa aku merasa menjadi manusia baru. Semuanya terlihat segar. Akupun
tersenyum sambil pergi ke kamar mandi bersiap ke tempat paling membosankan di
dunia.
Seperti
biasanya, hari-hari sekolah begitu membosankan. Guru-guru konyol, teman teman
menyebalkan, dan tentunya bau Ms. Scotty si juru masak makan siang. Tak ada
yang menarik, kecuali tanda di lengan yang berbentuk huruf yang tak bisa ku
mengerti, terlihat samar. Mungkin hanya bayangan saja.
Hari
ini aku tidak melihat Vladimir bersaudara, entah kemana mereka pergi.
Well,
hari ini terasa membosankan, memang seperti biasanya, tapi aku merasa ada
sesuatu yang berbeda. Entah apa itu.
Di
tempat lain….
Di
sebuah ruangan kecil, gelap dan hanya cahaya lilin yang samar menerangi,
terlihat dua sosok yang sedang berdiri. Yang satu sedang berdiri mengahadap
sosok yang membelakanginya. Disana terdapat kursi besar, hanya untuk satu
orang. Tidak begitu jelas bagaimana sosok kursi tersebut, kursi raja.
“Bagaimana
semalam? Uno?“ tanya sosok yang sedang menghadap ke jendela.
“Berjalan
lancar, milord.“ jawabnya tenang dan
penuh penghormatan.
“
Mmmm. Bagus. Dengan begini akan sesuai rencana kita.“
“Rencanamu,
tepatnya.” Bantah Uno.
“Ya,
rencanaku. Karena hanya aku yang mempunyai ide brilian seperti ini. Bahkan tidak
kau! Hahahaha”
Tawa
itu menggelegar di tempat tersebut. Bergema menyibak kesunyian. Sedangkan sosok
yang di panggil Uno tersebut menatapnya dari belakang dengan tajam. Mata hitam
dan putih tersebut terlihat siap menerkam. Dan senyum tipis mengembang. Ia
membalikan badan dan berlalu melewati pintu yang terbuka sendiri dengan santai.
Sekarang…
Aku
sudah sampai di rumahku, berjalan kaki dari sekolah. Ibu sedang tidur. Ia
sakit, tidak terlalu parah memang tapi aku memaksanya untuk istirahat. Itu cara
terbaik agar beliau tidak bertambah sakit.
Setelah
berganti baju dan memakan spaghetti aku segera menuju garasi dan sedikti
mengotak-atik motorku. Biasanya kupakai, tapi sekolah sedang melarang muridnya
menggunakan motor. Menyebalkan. Mereka bilang agar tidak banyak polusi. Bagus.
Tak
ada yang special hari ini, seperti biasa. Akupun mengunjungi Rio, rumahnya tak
begitu jauh, hanya beberapa blok dari rumahku.
Sesampainya
disana Rio sedang berada di teras rumahnya duduk santai.
“Yo!“
“Yo
Al! Ada apa? Tumben kau datang?“
“Terserah.
Ini mauku.“
“Hah,
kau terlalu naïf untuk mengatakan ‘aku
rindu padamu Rio’. Hahaha. Ayo masuk.“
Akupun
tersenyum jengkel dan segera masuk, entah kenapa setiap aku masuk ke rumah Rio
aku selalu merasakan kedamaian. Nyaman.
Tibalah
aku di dalam rumah, rumahnya cerah, di setiap sisi ada jendela yang mengarah
keluar dan memberikan cahaya serta sirkulasi ke dalam. Disini sepi, orang tua
Rio bekerja di departemen pemerintahan.
Akupun
segera duduk di sofa empuk. Di sebelahku ada sebuah artifak berbentuk tabung
berwarna putih dengan tulisan kuno yang rumit. Diatasnya ada tonjolan seperti
siap dibuka, dan artifak itu berada dalam sebuah kaca. Dilindungi. Akupun terus
mengamatinya.
“Itu
milik Dad. Dia membawanya dari Milidian.“
“Milidian?
Apa ini? Aku baru melihatnya.“
“Itu
sebuah kota kecil yang takkan kau temukan. Hahaha. Itu namanya Arcus, benda
magis yang mempunyai rahasia di dalamnya, tak ada yang bisa membukanya, di
tempabk pun tak bisa.“
“Hmmm.
Aku tak tertarik. Terserah.“
Kamipun
berbincang-bincang tentang segala hal, sampai akhirnya aku menceritakan mimpiku
pada Rio.
“Yang
benar?“
“Ya
benar, meskipun itu terdengar bohong tapi itu benar.“
“Aku
membaca di buku kuno milik Dad tentang orang-orang yang ada mimpimu. Ciri-ciri
yang kau katakan sama dengan yang ada dibuku, mereka adalah kelompok kuno yang
mempunyai kekuatan supranatural.“
“Sihir?“
“Hampir
mendekati, tapi kekuatan mereka mempunyai batasan.“
“Batasan?“
tanyaku mulai tertarik.
“Ya,
misalnya kau mempunyai kekuatan angin, maka kau hanya akan bisa menguasai angin
saja, kemampuan tersebut disebut nalune. Tetapi jika sihir kau bisa
mengendalikan semuanya, meskipun levelnya lebih tinggi nalune.“
“Well,
itu hanya omong kosong kupikir. Jadi aku tak peduli, tak ada urusannya denganku.
Lagipula itu cumin mimpi.“
“Ya
kau benar, mana mungkin ada hal seperti itu. Ha…“
Akupun
segera pulang, hari sudah malam.
Jalanan
sepi, hanya beberapa orang yang lewat, menara jam terlihat begitu indah pada
malam hari, dengan bulan diatas ujungnya. Lekukan awan terlihat begitu lembut,
tebaran bintang seperti kristal-kristal kecil yang ditaburkan di langit malam
yang terang. Aku menikmatinya. Angin menyibak rambutku, tercium aroma bunga
yang beristirahat. Harum.
Entah
kenapa, aku merasa malam ini begitu damai. Kejadian ajaib itu seperti memang
mimpi, meskipun seseorang bernama Zeus terasa begitu nyata. Akupun pulang
menembus malam.
Seperti
biasa, sesampainya dirumah aku membaringkan badanku di atas kasur. Terasa
sejuk, karena cover kasur ini berbahan dingin, dengan aroma mint. Lucu. Kubuka
pintu balkon dan kubiarkan angin masuk ke ruanganku. Tiba akupun terlelap
dibuai sang malam…
Tak
terasa hari sudah pagi, dan ini hari Sabtu, sekolah memang libur hari ini. Aku
berniat pergi ke rumah Vladimir, karena sudah lama aku tidak melihat mereka
berkeliaran di kota kecil ini.
Sesampainya
aku di jalan tempat rumah keluarga tersebut tinggal, aku melihat sebuah rumah
besar atau lebih tepatnya manor. Terkesan angker, dengan patung gargoyle diatas dua pilar bagian sisi
gerbang. Ditengah gerbang terlihat ukiran unik. Aku bingung. Dimana mereka
menyimpan belnya. Tiba-tiba saja gerbang terbuka dan aku terkesiap. Wow.
Pintu
besar rumah itu terbuka lebar, dan seorang perempuan seusiaku keluar dengan
senyum yang anggun. Aku terpana. Rambutnya berwarna coklat, sepinggang. Bajunya
terkesan kuno tapi mewah.
Dan
dibelakangnya aku melihat gadis yang tak aneh bagiku, Greta.
“Ternyata
memang benar itu kau Valent.“ suara nyaringnya terdengar lagi.
Aku
hanya menganggukan kepala sambil berjalan menghampiri mereka dengan santai
melewati halaman yang besar dan indah. Menggambarkan bahwa rumah ini memang
mewah. Tak seperti rumah lain dikota ini.
“Selamat
datang Tuan Bloodworth. Perkenalkan namaku Santana Vladimir.“ sapa perempuan
anggun itu. Sambil bersalaman denganku.
Aku
hanya bisa tersenyum dan mengangguk malu, sensasi ini begitu dahsyat, hangat.
Tak seperti Greta yang dingin seperti es. Dia tahu nama belakangku, Bloodworth.
Well, namaku Valentino Bloodworth. Aneh.
Begitu
dipersilakan masuk, aku melangkah dengan sopan. Dalam rumah ini mengeluarkan
aura aneh, terkesan seram. Banyak hiasan-hiasan yang terlihat kuno disini. Dan
aku juga melihat tabung yang sama seperti di rumah Rio, hanya saja itu berwarna
hitam.
“Apakah
tabung itu dari Milidian?“ tanyaku penasaran.
“Milidian?
Darimana kau tau kota kecil itu?“ tanya Santana dengan wajah serius. Aku
terkejut.
“Oh
itu. Temanku yang memberitahuku. Dia pasti bercanda bukan? Ha..“ jawabku gugup.
Santana
terdiam sebentar dengan sorot mata tajan. Dan berbalik dengan dingin. Jelas, ia
tak peduli. Aku juga.
“So,
selamat datang Val. Aku tak menyangka kau nekat datang kesini.” Kata Greta.
“Well,
ini akhir pekan bukan? Dan aku sudah lama tidak melihat kalian berdua.”
“Oh.
Aku menemani Axel yang sedang sakit.”
“Bagaimana
keadaanya sekarang?”
“Membaik.
Tapi lebih bagus kau tidak mendatanginya. Dia sedang istirahat.”
“Ok.
Aku hanya ingin tau keadaanya.”
Sampailah
kami diruang keluarga yang sangat besar. Bergaya klasik, tetapi dengan beberapa
perabotan elektronik. Seperti LCD, dan sebagainya. Kursi besar berada di depan
TV. Tepat di sebelah kursi-kursi mewah tersebut ada kaca besar dan juga sebagai
pintu untuk ke halaman samping. Tampak bunga-bunga yang indah, sebagian mereka
ada yang layu. Dan aku melihat seekor srerigala. Wow.
“Itu
serigala bukan?” tanyaku kagum.
“Iya.”
jawab Greta riang.
Singkat.
Lagipula aku tidak mau jadi orang yang menyebalkan yang suka bertanya.
Akhirnya
aku dan Greta duduk bersebrangan, sedangkan Santana pergi ke dapur, membuatkan
minuman. Serigala putih itu berjalan anggun kesana kemari di halaman rumah,
sesekali memandang dingin kearahku, matanya berwarna merah darah, tajam. Entah
kenapa, aku merasa tertarik kepada serigala itu.
“Bolehkah
aku melihatnya lebih dekat?” kataku minta ijin kepada Greta. Tentu saja untuk
melihat serigala itu.
“Oh.
Kenapa tidak. Tapi dia tidak baik seperti yang kau kira lhoo..”
“Well.
Aku kan tidak akan pernah tau kalau aku belum mencoba?” paksaku.
“Ha.
Ok. Ayo sini.”
Akupun
mengikuti Greta dari belakang. Akhirnya kami sampai didepan pintu yang terbuat
dari kaca. Dengan lembut Greta membuka pintu, hampir tak terdengar suara yang
berderit. Pada saat kami masuk, aku merasakan ketenangan. Serigala itu duduk di
atas tangannya dengan tenang dan malas. Ia melirik ke arahku dengan pandangan
sinis, tatapan dingin. Kemudian di memejamkan matanya sambil mengibaskan
ekornya. Entah kenapa sensasi di taman ini lebih nyaman, dibandingkan di dalam
rumah dengan patung setan yang menganga konyol.
“Nah
ini dia, Silva.” Dengan riang Greta memperkenalkan serigala itu.
“Silva?
Nama yang bagus untuk seekor serigala. Darimana kau mendapatkannya?”
“Ummm.
Perburuan, ayahku menangkapnya.”
“Ngomong-ngomong
dimana ayah dan ibumu? Aku merasa tak enak tanpa memperkenalkan diriku pada
mereka.”
“Oh
mereka sedang pergi ke Starion. Berkunjung ke rumah saudara. Kau tahu.”
“Oh
ya, aku mengerti.”
Starion
adalah kota besar yang menurut rumor kota itu terbentuk dari lekukan yang di
buat oleh meteor jatuh.
Santana
sudah selesai membuat limun dan kami pun segera ke ruang tengah.
“Disini
sepi ya?” tanyaku polos.
“Ya,
karena sekarang semua sedang pergi keluar kota.” Jawab Santana singkat.
“Dan
kau tahu? Disini hanya ada tukang kebun yang setia melayani kami dengan jangka
waktu yang lama. Hanya saja sekarang dia sedang tidur.” Tambah Greta.
“Well,
apakah kalian tidak kesepian disini dengan hanya 3 orang? Maksudku, kalian kan
perempuan dan tukang kebun itu…?”
“Kami
sudah terbiasa. Silakan di minum limunnya.” Jawab Santana singkat.
Aku
berani taruhan pasti pria tua itu memiliki banyak uban, dan raut muka
membosankan. Atau apabila ia mengikuti gaya keluarga ini. Dia akan memakai
pakaian rapi meski untuk berkebun.
Aku
jadi penasaran, seberapa luas rumah ini. Karena kulihat masih banyak
ruang-ruang lain.
Tak
terasa matahari hampir tenggelam. Akupun pamit pulang.
Ketika
aku sampai didepan gerbang dan menengok ke belakang, kulihat seseorang sedang
duduk santai di atap rumah. Kupikir itu pencuri atau sebagainya. Tapi setelah
kulihat dengan cermat sosok itu ternyata Axel. Akupun segera pergi meninggalkan
tempat itu.
Aku
berjalan sendirian, tanpa terasa matahari sudah tenggelam dan langit menjadi
biru gelap. Saat aku melewati taman kecil, aku melihat seorang anak kecil yang
rasanya tak asing bagiku. Dia ada di mimpiku. Ketika seorang perempuan yang
hampir mencabiku menyebut namanya. Devina. Akupun menghampirinya dengan
hati-hati.
“Halo?”
“……”
“Siapa
disitu?”
“……”
Dia
masih tetap diam, semakin aku mendekatinya semakin aku ingat siapa dia.
“Devina?”
“Ya.”
“Well,
ternyata aku tidak mimpi waktu itu.”
“Sebentar
lagi kau akan tau siapa dirimu sekarang.”
“Apa
maksudmu? Apa arti kejadian malam itu? Siapa kalian?”
“Jangan
terlalu banyak bertanya. Kau akan tau jika saatnya tiba. Lagipula aku sedang
mencari udara segar. Dan akan pulang
sekarang.”
“Tunggu
dul…”
Tiba-tiba
sebuah portal muncul di belakangnya. Ia berbalik dan melangkah tenang, ketika
ia sudah setengah masuk ia menoleh padaku.
“Valentino.
Mulai sekarang kau harus mulai percaya pada hal yang kau anggap konyol.”
Aku
hanya bisa bengong melihat dia masuk ke dalam portal gelap itu dan segera
setelah itu portalpun lenyap.
Wow.
Puzzle
Chapter 2
Into The Absurd
Sesampainya
disana, aku hanya melihat lapangan dan reruntuhan kosong, sepi, tidak ada
siapa-siapa. Aku menengok kesana kemari, nihil. Aku mulai berpikir, mungkin ini
hanya tipuan belaka? Tapi siapa orang itu? Akupun melihat kertas di tengah
lapang dan segera berlari untuk mengambilnya sebelum tertiup angin. Saat kertas
itu kuambil, ternyata kosong, meskipun aku membolak-baliknya sampai tanganku
pegal, tetap saja kertas itu kosong.
Aku
berdiri terdiam di tengah lapang, tengah malam dan sendirian. Jika kau mencari
10 besar orang terbodoh di dunia, maka kau akan melihat namaku paling atas,
dengan rekor mau saja di bodohi datang ke reruntuhan kosong di malam hari!
Pikiranku
mundur pada saat pertemuan dengan pria besar tadi, siapa dia? Apa maksudnya
ini? Well, mungkin dengan pertanyaan seperti itu cerita ini tampak lebih
seperti drama dengan aku sebagai pemeran utama yang histeris. Hentikan.
Tiba-tiba
aku merasakan ada aura yang terasa aneh. Aura ini begitu membuai, aku serasa
diterbangkan olehnya. Pada saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada seorang
perempuan berambut pirang sampai lutut kaki, badannya ideal. Ditambah dengan jubah
hitamnya kesan misterius semakin terlihat. Siapa dia? Apa dia bagian dari
rencana ini?
“Hm.
Jadi ini pria yang disebut-sebut Devina. Apa spesialnya?“ katanya tajam,
setajam pisau.
Aku
melongo tak mengerti, tak mampu berbicara.
“Kau
panggilan Zeus?“
“Zeus?
Siapa dia?“ seingatku tidak ada nama Zeus dalam daftar nama konyolku.
“Bodoh.“
Kemudian
aku teringat akan laki-laki tadi pagi, namanya Zeus. Tak diragukan lagi.
“So,
apa yang bisa kau lakukan?“ tanyanya dingin.
“Yang
bisa kulakukan? Aku benar-benar tidak mengerti. Sungguh.“
“Kau
tidak tau mengapa kau dipanggil kesini?“ nadanya mengejek.
Aku
semakin tegang, mata wanita berubah menjadi merah darah dengan hitam pekat di
tengahnya. Tiba-tiba aku melihat sesosok lain dengan gaun hitam, anak perempuan
dengan umur kira-kira 7 tahun. Matanya putih bening, tanpa ekspresi. Dan entah
kenapa aku tidak bisa merasakan auranya, semuanya hampa. Anak perempuan itu
memegang jubah si perempuan dan mengangguk pelan.
“Oh
Devina, hampir saja aku menerkam anak itu. Yang lain sudah datang?“ nadanya
berubah agak ramah, walau agak menyebalkan kedengerannya.
“Kau
bodoh ya Aquilla. Dia masih mentah dan dia mempunyai ‘potensi’.” Kata seseorang
yang suaranya agak aku kenal.
“Cih.
Beraninya kau memanggilku bodoh.” balas Aquilla sinis.
“Terserah.”
Balas Zeus. Aku tau begitu sosok besar itu terlihat.
Tiba-tiba
aura sekelilingku merasa berubah drastic, entah kenapa beban itu terasa berat
di pundakku. Beban apa? Aku tidak mengerti. Setelah sepersekian detik aku mulai
bangkit mencoba menahannya. Sosok-sosok lain berdatangan.
Ya,
mereka datang dari segala arah. Kira-kira jumlah mereka ada 11, dan aku melihat
Zeus berjalan bersebelahan dengan seseorang yang lebih kurus darinya. Senyum
Zeus mengembang jahat, sedangkan orang disebelahnya hanya terpejam sambil
berjalan seirama.
Ada
apa ini?
Sampai
saatnya mereka datang dan mengelilingiku tidak beraturan. Apa mereka gangster?
Apa salahku?
Tiba-tiba
persis di depan pintu reruntuhan muncul sesuatu yang gelap dan membesar
membentuk menjadi sebuah pintu tanpa pintu. Mengerti? Dalamnya sangat gelap,
meski kau berusaha melihat dengan apapun akan tetap saja gelap. Seorang manusia
keluar dari portal itu. Aku semakin tegang dan takut. Tak mengerti. Ingin
rasanya hujan meteor datang ke tempatku berdiri dan hari ini akan berakhir.
Sosok
itu semakin nyata. Memang nyata setelah portal itu meredup.
Ia
memakai jubah putih, berbeda dengan yang lainnya. Rambutnya pirang disisir ke
belakang, ekspresinya lurus, tak berperasaan. Matanya mempunyai dua warna,
hitam dan putih pekat. Siapa dia? Atau lebih tepatnya apa dia? Senyumnya
mengembang. Ditambah dia melayang diatas tanah.
“Jadi
ini pilihanmu Lord?“ tanya Zeus.
“Ya.
Ada masalah?“ jawabnya tenang setenang danau dingin yang dalam.
Zeus
hanya mendesis dan aku semakin tidak mengerti. Aku belum siap mati. Oh sial,
bahkan disaat klimaks seperti ini aku sempat berpikir akan mati. Ha!
“Apa
spesialnya anak ini?“ tanya orang yang berada di dekat Zeus, dia seumuran
denganku. 17 tahun. Lalu dia membuka hood-nya. Rambutnya berwarna putih dan
saat membuka matanya aku terkejut, kedua mata itu merah dan biru, tatapannya
kosong.
“Oh,
tenanglah Abellio. Dia tak akan mampu menandingimu, atau belum. Haha..” ejek
seseorang (lagi) yang berada di atas pohon oak. Masih memakai hood-nya. Dan aku
mendengar anak yang dipanggil Abellio itu mendesis.
“Kita
hentikan basa-basi ini?“ kata Lord (begitu panggil mereka) dingin.
Seketika
itu juga tempat ini menjadi sepi, aku menelan ludah dengan susah payah. Kenapa
aku takut? Mungkin karena mereka sekelompok orang aneh yang berusaha
mempermainkan anak bodoh sepertiku. Entah kenapa rasa dingin begitu menusuk
ketika Lord melayang ke arahku dengan anggunnya. Berani taruhan, dia pasti
banyak menyimpan gaun perempuan di lemarinya. Tetap saja, meski aku berusaha
membuat lelucon untuk menenangkan diriku yang panic tak terkira ini, itu tak
berhasil. Sungguh.
Aku
merapatkan kepalan tanganku dan menggertakan gigiku dengan rapat. Tegang. Aku
memang bodoh. Keringat dingin bercucuran.
Aku
terkesiap ketika Lord sudah berada di depanku. Matanya yang hitam-putih begitu
tajam dan kosong.
Ia
mengangkat tangan kanannya kearah dahiku. Dan menempelkannya. Terasa terjun
kedalam kegelapan. Semuanya gelap. Aku terbawa arus air yang besar ke danau
yang luas, gelap, dan dalam. Aku berpikir makhluk apa saja yang hidup disini?
Tiba-tiba
kakiku di tarik oleh sesuatu ke dasar danau. Aku terkejut. Kenapa aku tak bisa
berteriak, kenapa tak ada keinginan untuk berontak? Pada saat sedang meluncur
kebawah tiba-tiba ada gua, gua yang bergerak. Atau lebih tepatnya mulut seekor
ikan(?) yang amat sangat besar dan aku hanya melongo. Aku masuk kedalamnya.
Di
dalam sini luas, terdapat berbagai macam tulisan yang tak ku mengerti di
dindingnya. Lalu tulisan-tulisan itu bercahaya dan mulai lepas dari dinding
menuju ke arahku yang sedang terapung tak berdaya, mengeliliku.
Dalam
sekejap tulisan itu masuk ke dalam tubuhku, aku merasakan sensasi luar biasa.
Tubuhku terasa panas, juga dingin. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya meronta.
Rasanya seperti disengat dari luar dan dalam. Apa ini? Kepalaku serasa dibakar,
sakit sekali.
Kilasan
memori muncul seperti lampu yang terang dan redup dengan begitu cepatnya. Aku
berlari didalamnya, berlari ketakutan tanpa arah di sebuah lapangan yang luas
dan tak berujung. Kenapa aku berlari? Dimana ini? Apa yang terjadi?
Aku
masih meronta kesakitan, pakaianku robek dan hilang dalam ketiadaan. Aku
mengejang, tak kuat menahan rasa sakit. Seketika itu juga aku terlempar keluar
dari mulut makhluk itu, meluncur dengan kecepatan turbo ke permukaan. Dan
ketika aku berada di udara aku tetap terapung di udara yang hampa dan sunyi,
ketika aku membuka mata aku melihat titik cahaya kecil di langit, semakin
membesar dan menuju ke arahku. Aku panik, tapi tak ada niat untuk menghindar,
kubiarkan cahaya itu menembakku.
Badanku
terasa hangat, nyaman. Cahaya itu masuk ke dalam tubuhku dengan cepat,
semuanya. Tiba-tiba cahaya keluar dari semua celah tubuhku, disusul dengan
kegelapan yang keluar dari tubuhku dan berbaur dengan cahaya itu. Semuanya
lenyap. Terasa sesak, sakit dadaku, terlalu sakit. Aku tak bisa bernapas.
Gelap….
Subscribe to:
Posts (Atom)

